Home Kesehatan Informasi Pendataan Keluarga Sehat

Informasi Pendataan Keluarga Sehat

Pendataan keluarga sehat merupakan salah satu upaya pemerintah untuk melakukan pemetaan mengenai kebutuhan sarana dan prasarana yang digunakan untuk membangun masyarakat yang sehat di Indonesia.

Berikut ini kami sajikan sekumpulan infomarsi yang kami harapkan dapat bermanfaat dalam mendapatkan pemahaman mengenai pendataan keluarga sehat.

Pendataan keluarga dalam rangka Program Indonesia sehat melalui Pendekatan keluarga telah dilakukan sejak tahun 2016 terutama di 9 provinsi, yaitu:

  • Sumatera Utara,
  • Sumatera Selatan,
  • Lampung,
  • DKI Jakarta,
  • Jawa Barat,
  • Jawa Tengah,
  • Jawa Timur,
  • Banten dan
  • Sulawesi Selatan.

Pada tahun 2017, pendataan keluarga sehat akan dilakukan di seluruh provinsi dengan lokasi fokus (lokus) 2.926 puskesmas. Hasil pendataan dapat dientri pada aplikasi keluarga sehat.

Hasil pendataan keluarga yang telah dientri pada aplikasi keluarga sehat dapat dilihat pada dashboard status pendataan yang dapat menampilkan jumlah keluarga yang telah terdata dan Indeks keluarga sehat (IKS) dirinci dari nasional hingga desa dan kelurahan.

Hasil pendataan juga dapat diunduh sehingga dapat diolah dan dianalisis lebih lanjut.

Jumlah keluarga Terdata dari Aplikasi Pendataan Keluarga Sehat

Sampai dengan tanggal 8 Juni 2017 pukul 9.30 WIB, jumlah keluarga yang terdata di aplikasi keluarga sehat sebanyak 1.150.764 keluarga yang tersebar di 34 provinsi.

Provinsi dengan keluarga terdata terbanyak adalah Jawa Tengah (367.049 keluarga ), Jawa Timur (241.512 keluarga )dan Sumatera Utara (154.094 keluarga )

Menurut data BPS, rata-rata banyaknya anggota rumah tangga di Indonesia tahun 2015 adalah sebayak 3,90. Jika diasumsikan rata-rata banyaknya anggota rumah tangga di Indonesia tahun 2017 sama dengan tahun 2015, dan estimasi jumlah penduduk Indonesia tahun 2017 sebanyak 261.890.872 orang, maka diperkirakan jumlah rumah tangga di Indonesia tahun 2017 sebanyak 67.151.506 rumah tangga.

Dengan demikian baru 1,7% rumah tangga/keluarga yang terdata. Jumlah ini masih sangat kecil untuk bisa menggambarkan kondisi kesehat an keluarga secara nasional.

Dengan cara penghitungan yang sama, persentase rumah tangga/keluarga terdata menurut provinsi adalah sebagai berikut. Provinsi dengan persentase keluarga terdata terbesar adalah Sulawesi Selatan (5,34%), Sumatera Utara (4,65%) dan Jawa Tengah (3,96%). Sedangkan terendah adalah Provinsi Maluku (0,00%), Papua (0,01%) dan DI Yogyakarta (0,02%).

Indeks keluarga sehat dan Cakupan Indikator keluarga sehat

Terdapat 12 indikator utama yang telah ditetapkan untuk menyatakan suatu keluarga sehat atau tidak, yaitu:

  • Balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan.
  • Penderita tuberkulosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar.
  • Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur.
  • Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan.
  • Anggota keluarga tidak ada yang merokok.
  • keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehat an Nasional (JKN).
  • keluarga mempunyai akses sarana air bersih.
  • keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat .

Berdasarkan indikator tersebut, dilakukan penghitungan Indeks keluarga sehat (IKS) dari setiap keluarga .

Contoh:

  • jika di suatu keluarga terdapat semua indikator (12), dan yang memenuhi syarat (dapat dijawab dengan Ya) ada 10 indikator, maka IKS untuk keluarga tersebut adalah 10/12 = 0,83.
  • Jika di suatu keluarga lain terdapat hanya 10 indikator (misalnya karena tidak ada penderita Tuberkulosis Paru dan Penderita Gangguan Jiwa) dan yang memenuhi syarat hanya 6 indikator, maka IKS untuk keluarga tersebut adalah 6/10 = 0,60.
  • Sedangkan jika di keluarga lain lagi terdapat 10 indikator dan yang memenuhi syarat hanya 4 indikator, maka IKS untuk keluarga tersebut adalah 4/10 = 0,400. – keluarga Tidak sehat : IKS kurang dari 0,500.

Rekapitulasi IKS keluarga kemudian digunakan untuk menghitung/menetapkan IKS suatu wilayah (desa/kelurahan, kecamatan, dan seterusnya) yang menunjukkan status kesehatan masyarakat wilayah tersebut.

Aplikasi keluarga sehat per 8 Juni 2017 baru menghitung IKS dari 570.326 keluarga .

Indeks keluarga sehat dari 9 provinsi sasaran awal (Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten dan Sulawesi Selatan) adalah sebagai berikut. .

Dari keluarga yang telah terhitung IKS-nya, secara nasional maupun masing-masing provinsi didapatkan IKS kurang dari 0,500 atau kategori keluarga tidak sehat .Secara nasional didapatkan IKS sebesar 0,163 dan provinsi tertinggi adalah DKI Jakarta dengan IKS sebesar 0,323. .

Karena kecilnya cakupan keluarga yang telah terdata dan telah terhitung IKS-nya, maka angka ini belum bisa menggambarkan kondisi Indonesia, masih diperlukan peningkatan cakupan pendataan untuk mendapatkan IKS Indonesia yang sebenarnya.

Dari 12 indikator utama keluarga sehat, cakupan tertinggi adalah keluarga memiliki akses/menggunakan sarana air bersih dan yang terendah adalah penderita gangguan jiwa berat diobati dan tidak ditelantarkan.

Program Keluarga Sehat Indonesia

Kesehatan bukan hanya sekedar di hilir, bukan hanya sekedar mengobati. Tapi kesehatan ada di hulu membentuk masyarakat yang mengerti tentang kesehatan mau menjadi manusia yang sehat dan menjaga kesehatan.

Kesehatan bukan hanya mengupayakan penguatan layanan kesehat an primer, namun juga menguatkan program keluarga sehat. Salah satu terobosan tersebut adalah Program Indonesia sehat dengan Pendekatan keluarga atau yang lebih dikenal dengan program keluarga sehat.

Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki derajat kesehat an optimal.

Dalam rencana strategis Kementerian Kesehat an 2015-2019 yang menegaskan Program Indonesia sehat melalui Pendekatan keluarga (PIS-PK) dalam mendukung Gerakan Masyarakat Hidup sehat (GERMAS).

Apa itu program pendekatan keluarga ?

Pendekatan keluarga bukanlah program baru, melainkan salah satu cara Puskesmas meningkatkan jangkauan sasaran dan meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehat an dengan mendatangi keluarga. Puskesmas tidak boleh diam, harus aktif, pro aktif melakukan pelayanan ke luar gedung sampai kepada keluarga .

Pendekatan keluarga adalah salah satu cara puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan/meningkatkan akses pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya dengan mendatangi keluarga .Puskesmas tidak hanya menyelenggarakan pelayanan kesehat an di dalam gedung, melainkan juga keluar gedung dengan mengunjungi keluarga diwilayah kerjanya.

Dalam pelaksanaannya, pendekatan keluarga terintegrasi dengan semua program diseluruh puskesmas.

Dengan melakukan kunjungan rumah dari satu keluarga ke keluarga lain secara rutindan terjadwal, Puskesmas akan mengenali masalah-masalah kesehatan yang dihadapi keluarga secara menyeluruh.

Kegiatan kunjungan rumah dilakukan untuk :

  • pendataan / pengumpulan data profil kesehatan keluarga dan peremajaan (updating) pangkalan datanya.
  • Menindaklanjuti program kesehat an dalam gedung.
  • meningkatkan akses pelayanan komprehensif meliputi pelayanan promotif dan preventif serta pelayanan kuratif dan rehabilitatif dasar.
  • Mendukung standar pelayanan Minimal (SPM) Kab/Kota dan SPM Provinsi melalui peningkatan akses dan skrining kesehatan.
  • Mendukung tercapainya Program Indonesia sehat.

Sasaran utama adalah keluarga

Mengutamakan upaya Promotif-Preventif, disertai penguatan upaya kesehat an berbasis masyarakat (UKBM), Kunjungan rumah dilakukan Puskesmas secara aktif untuk peningkatan outreach dan total coverage, dan. Pendekatan siklus kehidupan atau life cycle approach.

Bagaimana Implementasinya di Indonesia?

Secara bertahap akan dilaksanakan secara nasional dengan target tahun 2017 sebanyak 2.926 Puskesmas prioritas. Di provinsi Aceh, program ini akan dilaksanakan pada 213 Puskesmas terpilih di Aceh. Sebanyak 213 Puskesmas terpilih ini akan mendapatkan pelatihan mengenai keluarga sehat ini yang dipusatkan di Bapelkes Jantho, secara bertahap selama tahun 2017 ini.

Apa saja Indikator keluarga sehat

Ada 12 indikator keluarga sehat yang harus kita cermati dan kita pahami. Keduabelas indikator keluarga sehat terbagi ke dalam lima kelompok, yaitu:.

  • Lima indikator dalam gizi, kesehat an ibu dan anak.
  • Dua Indikator dalam pengendalian penyakit menular dan tidak menular.

Dua Indikator dalam perilaku sehat

Pada indikator yang pertama, keluarga mengikuti program keluarga berencana (KB), pasangan usia subur, dapat mengunakan metode KB yang sesuai dan diharapkan kepada ibu bersalin untuk dapat menggunakan KB segera setelah melahirkan.

Untuk pilihan metode kontrasepsi yang tetap bagi anda dan pasangan tentunya anda bisa berkonsultasi dengan tenaga kesehat an. Ada sejumlah manfaat ber-KB diantaranya dapat mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, dapat meningkatkan kesehat an ibu dan anak dan juga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga ,mengatur dan menjarangkan kehamilan, meningkatkan kecukupan ASI dan pola asuh yang baik bagi anak, dan dapat menurrunkan resiko kematian ibu dan bayi.

Pada indikator kedua, Ibu melakukan persalinan di fasilitas pelayanan kesehat an akan membuat ibu selamat dan bayi sehat. Ada sejumlah manfaat bersalin difasilitas pelayana kesehat an diantaranya dengan bersalin di fasilitas pelayanan kesehat an ibu dan bayi ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten.

Ibu juga akan dapat memperoleh pelayanan KB segera setelah melahirkan, dapat menggunakan JKN-KIS/JAMPERSAL sebagai sumber pembiayaan, ibu dan bayi mendapatkan penanganan segera jika sewaktu-waktu terjadi komplikasi, bayi akan mendapatkan IMD (inisiasi menyusu dini) dan juga bayi akan mendapatkan seluruh perawatan yang diperlukan termasuk juga imunisasi.

Indikator ketiga, Bayi mendapatkan imunisasi lengkap. Imunisasi dasar lengkap untuk bayi dapat diperoleh di Posyandu, Puskesmas, Dokter, dokter spesialis anak, bidan praktik dan juga di rumah salin. untuk mengetahui jenis-jenis imunisasi dasar lengkap yang harus diperoleh oleh seorang bayi dan anak dapat dilihat pada paket informasi Bayi mendapatkan imunisasi lengkap di sini.

Indikator keempat, Bayi mendapat ASI Ekslusif. Pastikan bayi anda hanya diberikan ASI saja dari usia 0-6 bulan, dan ASI diteruskan sampai usia bayi 2 tahun. Ibu menyusui sampai 2 tahun lebih hemat dan anak akan tumbuh kembang secara optimal. Anak akan tumbuh sehat dan cerdas. .

Manfaat ASI bayi bayi diantaranya adalah:

  1. sumber makanan terbaik sampai usia 6 bulan;
  2. Bayi tidak mudah sakit;
  3. Meningkatkan kasih sayang ibu dan bayi;
  4. Menunjang tumbuh kembang yang optimal.

Sedangkan manfaat ASI bagi ibu diantaranya adalah dapat mengurangi resiko kanker payudara, mengurangi perdarahan setelah melahirkan, mempercepat pemulihan kandungan, mempercepat penurunan berat badan setelah melahirkan dan dapat menunda kehamilan.

Indikator ke-lima, Balita mendapat Pemantauan pertumbuhan. Agar Balita mendapat pemantauan pertumbuhan, balita harus dibawa ke posyandu untuk ditimbang setiap bulan. Diposyandu balita akan ditimbang setiap bulan sejak lahir sampai 5 tahun. Pemantauan pertumbuhan balita ini bermanfaat untuk mengetahui status pertumbuhan balita, sebagai deteksi dini gangguan pertumbuhan balita, Ibu mendapat penyuluhan gizi pertumbuhan balita.

Konsultasikan segera balita ke Puskesmas apabila ditemui hal-hal sebagai berikut:

  1. berat badan berada dibawah garis Merah;
  2. Berat badan tidak naik;
  3. Balita sakit/demam/batuk/pilek/diare.

Manfaat lain balita selalu dibawa ke Posyandu adalah agar orang tua dapat selalu memantau pertumbuhan balita, mendapat kapsul vitamin A, mendapat imunisasi lengkap, tempat mendapatkan makanan tambahan bergizi.

Selain itu ke posyandu juga sangat bermanfaat bagi ibu hamil untuk mendapat tablet tambah darah dan ibu juga bisa mendapat pengetahuan/wawasan tentang kesehat an dengan mengikuti penuyukuhan yang disampaiakan oleh petugas kesehat an, terutama pengetahunan yang terkait dengan Kesehat an ibu dan anak.

Indikator keenam, Penderita TB Paru mendapat pengobatan sesuai standar. Gejala TB diantaranya adalah batuk berdahak, sesak nafas dan nyeri dada, badan lemas, nafsu makan berkurang, dan demam meriang berkepanjangan, Gejala lainnya adalah berat badan menurun, dan adanya kontak dengan pasien TB. Bila ada salah satu atau lebih gejala di atas segera periksa ke Puskesmas.

Untuk mengetahui orang sakit TB harus dilakukan pemeriksaan dahak. Bila hasil pemeriksaan positif, maka harus diberi pengobatan selama 6 bulan secara terus menerus, tidak boleh putus sampai sembuh. Selama proses pengobatan lakukan pemeriksaan rutin ke Puskesmas.

Pemeriksaan dahak dilakukan pada satu akhir tahap awal (intensif) yaitu akhir bulan kedua atau ketiga akhir bulan, pemeriksaan dahak diulang pada akhir bulan kelima, dan untuk memastikan pasien sembuh pemeriksaan dahak diulang pada akhir periode pengobatan.

Apa yang terjadi jika berhenti minum obat TB sebelum waktunya?

Ada 3 hal yang akan terjadi apabila penderita TB berhenti minum obat TB sebelum waktunya.

  • pertama adalah TB yang tidak sembuh akan dapat terus menular ke orang lain.
  • Kedua, kuman TB dapat dalam tubuh menjadi kebal terhadap obat sehingga pengobatan berikutnya akan lebih lama dan lebih mahal karena jenis obat nya berbeda.
  • Ketiga, kuman TB yang kebal obat juga dapat ditularkan kepada orang lain dengan status kebal obat (lebih berbahaya).

Indikator ketujuh, Penderita Hipertensi melakukan pengobatan secara teratur. Pada umumnya hipertensi tidak disertai dengan gejala atau keluhan tertentu. Keluhan tidak spesifik pada penderita hipertensi adalah sakit kepala, gelisah, jantung berdebar-debar, pusing, penglihatan kabur, rasa sakit di dada, mudah lelah dan lain-lain.

Mengendalikan hipertensi bisa dilakukan dengan gaya hidup sehat dan minum obat secara teratur. Pengobatan secara teratur adalah : meminum obat secara teratur sesuai rekomendasi dokter dan melakukan kontrol teratur. sudah seharusnya kita waspadai hipertensi dan kendalikan tekanan darah.

Ada sejumlah faktor resiko hipertensi. Faktor resiko tersebut ada yang merupakan faktor resiko yang tidak dapat diubah yaitu umur jenis kelamin dan riwayat keluarga.

Dan ada juga faktor resiko yang dapat diubah seperti merokok, kurang makan buah dan sayur, konsumsi garam berlebih, kurang aktivitas fisik, berat badan berlebih/kegemukan, dislipidemia dan stres.

Komplikasi hipertensi antara lain:

  • gangguan jantung,
  • gangguan saraf,
  • gangguan celebral,
  • gangguan fungsi ginjal,
  • gangguan penglihatan.

Untuk mencegah hipertensi bisa dengan menerapkan perilaku CERDIK, yaitu:

  • Cek kesehatan secara berkala,
  • Enyahkan asap rokok,
  • Rajinan ativitas fisik,
  • Diet seimbang,
  • Istirahat yang cukup dan
  • Kelola stres.

Indikator kedelapan, Penderita gangguan jiwa mendapat pengobatan dan tidak ditelantarkan. Gangguan jiwa dapat diobati apa apa lagi jika ditangani sedini mungkin.

Peran keluarga sangat penting dalam memperhatikan dan mendeteksi dini gejala perubahan emosi, perilaku dan pola/isi pikir yang tidak wajar dari anggota keluarga.

Hal yang harus diperhatikan adalah apabila ada anggota keluarga yang dipasung agar segera dilaporkan kepada kader/puskesmas setempat untuk dapat ditangani sebagaimana mestinya. .

Indikator kesembilan, Anggota keluarga tidak ada yang merokok. Rokok itu sebenarnya adalah racun. Dalam satu batang rokok yang dibakar, mengandung 4000 zat kimia beracun dan sebagian diantaranya adalah bersifat karsinogenik. Racun utama yang terdapat dalam sebatang rokok adalah tar, nikotin, dan karbonmonoksida.

Indikator ke sepuluh, Sekeluarga sudah menjadi anggota JKN. Menjadi anggota JKN atau menjadi peserta JKRA di aceh adalah sesuatu yang sangat penting bagi keluarga.

Hal ini untuk menjamin anggota keluarga untuk mendapatkan pelayanan kesehat an difasilitas kesehat an yang bekerjasama dengan BPJS Kesehat an.

Indikator kesebelas, keluarga mempunyai akses sarana air bersih. Sarana air bersih sangat penting untuk mencapai keluarga sehat.

Harus dijaga kebersihannya seperti tidak ada genangan air disekitar sumber air, dan dilengkapi dengan saluran pembuanagan air, tidak ada kotoran atau kuman pencemar air dan memenuhi syarat-syarat air yang bersih.

Indikator kedua belas, Menggunakan/mempunyai akses jamban keluarga .Selalu gunakan jamban sehat .Manfaat Buang Air Besar dan Kecil di jamban diantaranya adalah :

  1. Lingkungan bersih, sehat dan tidak berbau,
  2. Tidak mencemari sumber air dan tanah yang ada disekitarnya,
  3. Tidak mengundang lalat/kecoa/serangga yang dapat menularkan penyakit sehingga semua anggota keluarga akan sehat dan terhindar dari berbagai penyakit yang biasa disebabkan oleh kegiatan buang air besar sembarangan seperti infeksi saluran pencernaan, tifus, kecacingan, diare, kdan disentri.

Untuk menyukseskan pelaksanaan penyelenggaraan Program Indonesia sehat dengan Pendekaatan keluarga (Program keluarga sehat ), Kementerian Kesehat an telah mengeluarkan Buku Pedoman, Program Indonesia sehat dengan Pendekatan keluarga, Petunjuk Teknis Penguatan Manajemen Puskesmas dengan Pendekatan keluarga dan juga Peraturan Menteri Kesehat an tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia sehat dengan Pendekaatan keluarga yaitu PMK No. 39 tahun 2016.

Dalam rangka melaksanakan program kementerian Kesehatan, di desa kenaman telah diadakan Pendataan Keluarga Sehat (PIS-PH) oleh petugas dari Puskesmas Balai Karangan.

Adapun tujuan diadakannya pendataan tersebut adalah untuk mengetahui derajat kesehatan pada masyarakat dengan cara pendekatan keluarga agar bisa lebih akurat pendataannya karena para petugas datang langsung menemui keluarga yang bersangkutan dari kegiatan tersebut sangat banyak sekali manfaatnya antara lain :

  • Keluargayang didata mendapatkan konsleting langsung tentang kesehatan serta pemeriksaan kesehatan secara sederhana,
  • dengan adanya pemeriksaan langsung akan dapat terdeteksi masalah kesehatan yang ada di masyarakat seperti kurangnya sarana air bersih, jamban dan lain sebagainya serta bisa mendapatkan data yang lebih akurat dan diminta kepada masyarakat jangan menutupi tentang masalah kesehatan kita agar para petugas dengan segera dapat menindak lanjuti informasi yang kita sampaikan dengan memberi informasi yang benar.

Hal inilah yang seringkali membuat masyarakat merasa pusing karena biaya pengobatan atau sekadar melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan cukup mahal. Belum lagi prosesnya yang membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan rumit, seperti pendataan pasien di faskes yang bersangkutan.

Namun, Anda tidak perlu risau lagi dengan masalah lamanya waktu melakukan proses pendataan di rumah sakit ataupun puskesmas. Pasalnya, pemerintah telah meluncurkan sebuah aplikasi yang bertujuan sebagai produk bantuan bagi masyarakat yang ingin berobat atau mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih terpadu.

Aplikasi tersebut dinamakan Aplikasi Keluarga Sehat yang dapat dengan bebas Anda akses di situs resminya, atau langsung mengunduhnya pada smartphone. Agar tidak melewatkan fitur serta keuntungan yang bisa didapatkan saat menggunakan aplikasi tersebut, simak penjelasannya berikut ini.

Aplikasi Keluarga Sehat Sebagai Upaya Pemerintah Meningkatkan Layanan Kesehatan.

Aplikasi Keluarga Sehat versi Mobile android ini merupakan aplikasi resmi yang dapat digunakan untuk mendukung Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga(PIS-PK) dalam hal pendataan keluarga sehat melalui kunjungan rumah.

Aplikasi ini merupakan pengembangan dari aplikasi sebelumnya yang berbasis web yang dapat diakses melalui alamat www.keluargasehat.kemkes.go.id. 

Aplikasi ini ditujukan untuk memudahkan para surveyor untuk melakukan pendataan langsung dilokasi pendataan, baik dalam keadaan terkoneksi internet maupun tidak (online / offline).

Dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan dan mempermudah fasilitas kesehatan untuk mendata pasien, Pusat Data dan Informasi atau Pusdatin meluncurkan Prokesga pada 2015. Barulah di tahun 2016, Aplikasi Prokesga ini berganti nama menjadi Keluarga Sehat yang lebih sederhana dan mudah diingat masyarakat.

Dilansir dari situs pusdatin, diketahui bahwa Aplikasi Keluarga Sehat adalah sebuah upaya dukungan dalam bidang teknologi informasi. Sehingga melalui aplikasi tersebut, proses pendataanNomor Induk Kependudukan atau NIK serta Nomor KK dari Dukcapil menjadi lebih terintegrasi dan terpadu.

Dengan memiliki akses pada NIK, Aplikasi Keluarga Sehat juga memudahkan proses pembuatan nomor pendaftaran data lapangan, analisis, serta pengolahan data pasien fasilitas kesehatan. Tidak hanya itu, penyajian data agregat IKS atau Indikator KeluargaSehat juga dapat lebih mudah diakses dan diolah.

Sebagai aplikasi kesehatan berskala nasional, aplikasi tersebut menganut sistem informasi kesehatan regional namun berlaku di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini karena aplikasi yang terhubung melalui internet dan terintegrasi di database sehingga dapat diakses oleh seluruh puskesmas, dinkes tingkat kota atau kabupaten, hingga Kementerian Kesehatan.

Salah satu fiturnya seperti penginputan data keluarga. Melalui fitur tersebut juga Anda dapat mengetahui hasil entry data yang telah dimasukkan. Bahkan, agar proses pengecekan dapat dilakukan dengan lebih mudah, hasil entry data juga dapat dilihat dalam bentuk visual berupa tabel dan grafik.

Tujuan mendasar diluncurkannya Aplikasi KeluargaSehatini adalah untuk mendigitalisasi anggota keluarga demi kepentingan pendataanprogram keluargasehat. Dengan begitu, program Indonesia Sehat yang dicanangkan Pemerintah Indonesia dapat berjalan lebih pesat dan aktif.

Hingga kini, Aplikasi Keluarga Sehat dapat diakses melalui dua platform yang berbeda yaitu website dan aplikasi. Awalnya, aplikasi tersebut hanya bisa diakses melalui website resminya. Namun, mengikuti tren masyarakat yang banyak menggunakan gawai smartphone, aplikasinya pun diluncurkan pada platform Android dan dapat diunduh gratis.

Kesimpulan

Semoga dengan adanya kegiatan pendataan Keluarga Sehat akan lebih meningkatkan perbaikan kesehatan masyarakat Indonesia.